Kamis, 12 Mei 2016

sebuah catatan

Seniman, Pekerja Seni dan Nye-niman
Coretan ketakutan
Menasbihkan diri atau ditasbihkan orang lain, sebuah profesi itu tentunya memiliki efek yang berbeda-beda. Seperti halnya profesi yang cukup unik, yaitu seniman. Kenapa saya mengatakan unik, sebab profesi sebagai seniman tentunya akan terlihat dan mempunyai spesifikasi yang jelas. Salah satunya (mungkin) berambut gondrong dan pakaian seadanya. Bahkan terkadang ada yang bangga dengan pakaian sobek-sobek. Dalam hal ini sebenarnya saya hanya ingin menulis atau membiarkan diri saya sendiri. Saya tidak ingin bicara tentang orang lain, walau orang yang mendedikasikan hidupnya seperti saya juga banyak. Banyak berita yang tertulis di koran maupun berita televisi, mereka bilang kalau hidupnya akan didedikasikan untuk menari, menulis, melukis, bermain musik, berteater atau apa saja. Begitu juga dengan saya, saya pernah mengatakan kepada banyak kawan atau beberapa tulisan saya, bahwa saya berjanji untuk mendedikasikan hidup saya untuk kesenian. Dalam hal ini, lantas saya tidak ingin mengatakan diri saya seniman, sebab menasbihkan dirinya menjadi seorang berprofesi tertentu harus diimbangi dengan ilmu yang mumpuni. Hampir 26 tahun saya naik dan turun panggung, baik menjadi pelaku maupun menjadi pelengkap dalam sebuah event pertunjukan maupun pameran seni rupa. Selama 26 tahun pula saya belajar kesenian, banyak hal yang saya temui. Baik dari segi pertemuan dan proses dengan induvidu maupun kelompok. Selain itu saya juga banyak belajar tetang ke-ilmuan dibidang yang memang saya geluti. Apa saja. Namun selama hampir 26 tahun saya berkiprah di dunia seni saya tidak berani sekalipun mengatakan bahwa saya seorang adalah SENIMAN. Ada persoalan mendasar kenapa saya tidak berani mengatakan bahwa saya seniman, sebab seniman adalah pekerjaan yang cukup berat. Mempunyai tanggungjawab baik secara mental maupun tanggungjawab sosial yang berat. Seorang seniman adalah orang yang mempunyai ilmu tinggi dalam bidangnya, pencipta sebuah karya seni dan diakui oleh banyak orang maupun lembaga. Bukan diri sendiri yang menasbihkan dirinya sebagai seniman, predikat kesenimanan seseorang itu akan muncul dengan sendirinya. Tentunya dengan berbagai aspek yang mendukung, salah satunya adalah mempunyai karya dan bisa dipertanggungjawabkan terhadap publik dan masyarakat. Tetapi ini adalah pendapat saya, sebab saya yakin orang akan berpendapat lain.
Saya lebih suka menyebut diri saya sebagai buruh seni, atau pekerja seni. Kenapa begitu, sebab saya merasa tidak mempunyai beban begitu berat dalam menyandang sebuah profesi. Seorang buruh bagi saya adalah orang yang bekerja sesuai dengan kemampuannya, begitu juga seorang pekerja. Pekerja itu akan melakukan apa saja asalkan dia mendapatkan mandat atau terkadang mengerjakan apa yang menjadi idenya. Hal inilah yang selama ini bisa membuat saya bertahan menjalani apa yang sudah saya pilih. Sebab dengan begitu, saya akan tetap istikomah dan tidak memberatkan diri sendiri hanya karena menanggung sebuah nama yang bagi saya sangat terhormat, yaitu SENIMAN.
Lain lagi dengan Nye-niman. Bagi saya nyeniman adalah bagian dari branding seseorang yang merasa dirinya seniman. Hal semacam ini banyak kita jumpai dalam kalangan maupun komunitas-komunitas kesenian. Nyeniman ini mempunyai satu faktor yang kadang sangat mencolok, yaitu cara berpakaian dan berperilaku. Tetapi memang tidak semuanya. Dulu saya pernah mengalami fase semacam ini pada saat sedang menimba ilmu di sekolah kesenian. Tetapi saya sadar, bahwa saya ternyata sedang berlaku menjerumuskan diri saya sendiri di hadapan para seniman-seniman besar. Saya sempat berkata pada diri saya, begitu munafik saya dengan profesi yang sangat berat ini. Lantas lambat laun saya mencoba untuk mengikis ego saya yang sok nyeniman itu, saya hanya tidak ingin terjebak pada sebuah tanggungjawab dengan menasbihkan sebagai seorang SENIMAN.  Hal-hal semacam inilah yang mendasari saya, hingga detik ini tidak berani mengatakan kalau diri saya seorang SENIMAN. Tetapi saya sudah berjanji pada diri saya, bahwa saya akan mendedikasikan hidup saya di dunia seni. Apakah dengan begitu, lantas saya bisa menyebut diri saya adalah seniman, tentu saja tidak. Bagaimana menurut anda?


Isuur loeweng suroto

Tidak ada komentar: