Seniman, Pekerja Seni dan Nye-niman
Coretan ketakutan
Menasbihkan diri atau
ditasbihkan orang lain, sebuah profesi itu tentunya memiliki efek yang
berbeda-beda. Seperti halnya profesi yang cukup unik, yaitu seniman. Kenapa
saya mengatakan unik, sebab profesi sebagai seniman tentunya akan terlihat dan
mempunyai spesifikasi yang jelas. Salah satunya (mungkin) berambut gondrong dan
pakaian seadanya. Bahkan terkadang ada yang bangga dengan pakaian sobek-sobek.
Dalam hal ini sebenarnya saya hanya ingin menulis atau membiarkan diri saya
sendiri. Saya tidak ingin bicara tentang orang lain, walau orang yang
mendedikasikan hidupnya seperti saya juga banyak. Banyak berita yang tertulis
di koran maupun berita televisi, mereka bilang kalau hidupnya akan didedikasikan
untuk menari, menulis, melukis, bermain musik, berteater atau apa saja. Begitu
juga dengan saya, saya pernah mengatakan kepada banyak kawan atau beberapa
tulisan saya, bahwa saya berjanji untuk mendedikasikan hidup saya untuk
kesenian. Dalam hal ini, lantas saya tidak ingin mengatakan diri saya seniman,
sebab menasbihkan dirinya menjadi seorang berprofesi tertentu harus diimbangi
dengan ilmu yang mumpuni. Hampir 26 tahun saya naik dan turun panggung, baik
menjadi pelaku maupun menjadi pelengkap dalam sebuah event pertunjukan maupun
pameran seni rupa. Selama 26 tahun pula saya belajar kesenian, banyak hal yang
saya temui. Baik dari segi pertemuan dan proses dengan induvidu maupun
kelompok. Selain itu saya juga banyak belajar tetang ke-ilmuan dibidang yang
memang saya geluti. Apa saja. Namun selama hampir 26 tahun saya berkiprah di
dunia seni saya tidak berani sekalipun mengatakan bahwa saya seorang adalah SENIMAN.
Ada persoalan mendasar kenapa saya tidak berani mengatakan bahwa saya seniman,
sebab seniman adalah pekerjaan yang cukup berat. Mempunyai tanggungjawab baik
secara mental maupun tanggungjawab sosial yang berat. Seorang seniman adalah
orang yang mempunyai ilmu tinggi dalam bidangnya, pencipta sebuah karya seni
dan diakui oleh banyak orang maupun lembaga. Bukan diri sendiri yang
menasbihkan dirinya sebagai seniman, predikat kesenimanan seseorang itu akan muncul
dengan sendirinya. Tentunya dengan berbagai aspek yang mendukung, salah satunya
adalah mempunyai karya dan bisa dipertanggungjawabkan terhadap publik dan
masyarakat. Tetapi ini adalah pendapat saya, sebab saya yakin orang akan
berpendapat lain.
Saya lebih suka menyebut
diri saya sebagai buruh seni, atau pekerja seni. Kenapa begitu, sebab saya merasa
tidak mempunyai beban begitu berat dalam menyandang sebuah profesi. Seorang
buruh bagi saya adalah orang yang bekerja sesuai dengan kemampuannya, begitu
juga seorang pekerja. Pekerja itu akan melakukan apa saja asalkan dia
mendapatkan mandat atau terkadang mengerjakan apa yang menjadi idenya. Hal
inilah yang selama ini bisa membuat saya bertahan menjalani apa yang sudah saya
pilih. Sebab dengan begitu, saya akan tetap istikomah dan tidak memberatkan
diri sendiri hanya karena menanggung sebuah nama yang bagi saya sangat
terhormat, yaitu SENIMAN.
Lain lagi dengan Nye-niman. Bagi
saya nyeniman adalah bagian dari branding seseorang yang merasa dirinya
seniman. Hal semacam ini banyak kita jumpai dalam kalangan maupun
komunitas-komunitas kesenian. Nyeniman ini mempunyai satu faktor yang kadang
sangat mencolok, yaitu cara berpakaian dan berperilaku. Tetapi memang tidak
semuanya. Dulu saya pernah mengalami fase semacam ini pada saat sedang menimba
ilmu di sekolah kesenian. Tetapi saya sadar, bahwa saya ternyata sedang berlaku
menjerumuskan diri saya sendiri di hadapan para seniman-seniman besar. Saya sempat
berkata pada diri saya, begitu munafik saya dengan profesi yang sangat berat
ini. Lantas lambat laun saya mencoba untuk mengikis ego saya yang sok nyeniman
itu, saya hanya tidak ingin terjebak pada sebuah tanggungjawab dengan
menasbihkan sebagai seorang SENIMAN. Hal-hal semacam inilah yang mendasari saya,
hingga detik ini tidak berani mengatakan kalau diri saya seorang SENIMAN.
Tetapi saya sudah berjanji pada diri saya, bahwa saya akan mendedikasikan hidup
saya di dunia seni. Apakah dengan begitu, lantas saya bisa menyebut diri saya
adalah seniman, tentu saja tidak. Bagaimana menurut anda?
Isuur loeweng suroto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar